Press "Enter" to skip to content

Apa itu APRS (Automatic Packet Reporting System) ?

Kebanyakan orang awam tentu belum tahu apa itu APRS. Saya sendiri mengenal APRS ketika mulai aktif di komunikasi radio melalui satelit dan tergabung dengan para AMSAT ( Amateur Radio Satellite) Indonesia. Di dunia amatir radio , APRS bukanlah hal yang baru. APRS telah dikembangkan sejak akhir 1980-an oleh Bob Bruninga, callsingn WB4APR, dia adalah insinyur peneliti senior di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat.

APRS (Automatic Packet Reporting System) adalah penginderaan objek bergerak atau diam dengan menggunakan data paket yang dipancarkan melalui radio yang bekerja pada band frekuensi amatir radio. Data dapat mencakup objek Global Positioning System (GPS) koordinat, stasiun cuaca telemetri, pesan teks, pengumuman, pertanyaan, dan telemetri lainnya. Data APRS dapat ditampilkan pada peta, yang dapat menampilkan stasiun, objek, trek objek bergerak, stasiun cuaca, data pencarian dan penyelamatan, dan data pencarian arah.

APRS masuk di Indonesia dibawa dan diperkenalkan oleh Dr, Paulus Soeryono Adisoemarta (Om Yonon) dengan callsign YD0NXX. Saat ini APRS masih banyak di manfatakan oleh para amatir radio untuk pengiriman pesan singkat, tracking posisi objek bergerak dan weather station (stasiun cuaca).

Penerapan system APRS pada sebuah stasiun radio dapat dilakukan dan dapat menggunakan pelalatan yang mudah dan murah. Frekwensi yang digunakan dalam system APRS terdapat pada beberapa pita frekuensi. Untuk pita frekwensi HF (High Frequency), frekwensi yang digunakan adalah frekuensi 10.151MHz LSB. Sedangkan untuk pita frekwensi VHF (Very High Frequency), frekuensi yang digunakan pada band 2-meteran yaitu 144.390MHz ini berlaku secara teresterial sedangkan untuk Digipeater Satelit di 145.825MHz (satelit IO-86/LAPAN A2 menggunakannya).

Di Indonesia penggunaan frekuensi tersebut merupakan frekuensi yang dialokasikan untuk para amarit radio yang tergabungd alam Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Penggunaan frekuensi tersebut dapat di akses oleh semua orang namun hanya sebatas memonitor saja. Apabila ikut aktif menggunakan harus menjadi amatir radio dan tergabung dalam organisasi ORARI.
Adapun berbagai macam setup APRS di perangkat stasiun radio antara lain : Stasiun kirim-terima, stasiun kirim saja (mobile), dan stasiun terima saja. Jadi sifat stasiun terdiri dari stasiun bergerak (mobi/motor, pejalan kaki, balon udara), Stasiun diam (rumah, stasiun local), Stasiun cuaca, Stasiun iGate ( Internet gateway).


Cara kerja APRS dengan mode radio paket adala sebagai berikut: Statisun memancarkan info (posisi, pesan singkat, cuaca)—> Stasiun penerima menerima paket langsung diteruskan (jika sebagai stasiun digipeater) dan dikirim ke internet server APRS (jika sebagai internet gateway).

Ini ilustrasi gabungan APRS terestrial dan Satelit

Jika paket masuk di server APRS, maka posisi objek dapat terlihat halaman website http://www.aprs.fi, http://www.findu.com atau bisa di http://www.aprsdirect.com

Aktifitas APRS di Kota Jakarta (aprs.fi)


Untuk perangkat radio yang support APRS adalah sebagai berikut:

Komponen inti dari APRS sendiri adalah suatu alat yang bernama TNC (Terminal Node Controler). Dengan menghubungkan perangkat radio kita dengan TNC dan GPS, maka kita telah membangun APRS kita sendiri.

Tapi mungkin pembaca/amatir melihat beberapa perangkat radio diatas berfikir bahwa ternyata peralatannya mahal, tetapi beberapa rekan2 AMSAT-ID telah mengembangkan beberapa perangkat radio yang bisa untuk komunikasi APRS dengan biaya rendah. Adapun apa saja perangakat tersebut dan bagaimana cara instalasinya , akan di posting kemudian di blog ini………

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.